Fenomena Stripping Di Televisi (Sebuah Catatan Akhir Tahun)



Delapan belas tahun yang lalu, TV swasta lahir dengan format mass channel atau catch all tv atau tv umum. Yaitu tv yang hadir dengan tayangan yang diperuntukan bagi segala kalangan pemirsa : laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak dll. Juga semua lapisan : kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Dari kaum profesional sampai ibu-ibu dan pembantu rumah tangga. Paralel dengan hal itu, acara yang ditayangkan juga sangat variatif. Ada sinetron, berita, musik, olahraga, masak-memasak, lawak, talk show, kuis, film, telenovela, kartun dll.

Seperti toko kelontong saja, hampir semua barang ada. Demikian juga di tv hampir semua jenis acara ditayangkan.Yang membedakan antara stasiun tv yang satu dengan yang lain sangat sedikit. Mungkin sebatas beda judul atau jam tayangnya saja. Sedangkan jenis tayangannya sama. Misalnya RCTI dan SCTV, dua tv swasta yang pertama itu juga hadir dengan format mass channel (catch all tv).

Seiring dengan berjalannya waktu, TPI yang lahir belakangan sedikit tampil beda. Yaitu dengan lebih banyak menyisir kalangan menengah ke bawah sebagai sasaran pemirsanya. Lalu Antv dengan kalangan mudanya. Terobosan Metro tv yang melawan arus dengan tayangan beritanya menjadi catatan tersendiri pertelevisian di Indonesia. Beberapa stasiun tv yang kemudian lahir belakangan lalu makin spesifik dengan jenis tayangannya. Ceruk pemirsa yang dibidikpun makin segmented lagi. Dari sinilah kemudian lahir dengan apa yang disebut sebagai segmented channel(segmented tv).

REPOSISI

Sekarang ini, model mass tv (catch all tv) seperti pertama kali tv swasta hadir sepertinya sudah tidak bisa menjadi pilihan lagi. Era sebuah stasiun tv menjaring segala jenis pemirsa dengan aneka jenis tayangan sudah selesai. Itu semua masa lalu. Dan bagi stasiun tv, era sekarang adalah era baru.

Setidaknya ada dua hal penting yang mendorong stasiun tv mereposisikan dirinya didepan pemirsa. Yang pertama, jumlah stasiun tv yang semakin tahun semakin banyak. Sekarang ini ada kurang lebih 20 saluran tv domestik yang bisa diakses bebas (terrestrial tv) oleh masyarakat. Belum ditambah dengan lebih banyak lagi saluran lewat tv berlangganan (pay tv). Efek sampingnya sudah bisa ditebak : Fragmentasi. Persaingan merebut share dan rating antar stasiun tv jadinya makin sengit. Mirip ekonomi pasar saja. Banyak demand tapi juga banyak supply. Sehingga kemudian berlaku juga hukum pasar yang menuntut masing-masing stasiun tv mengoreksi tayangannya.

Kedua, adalah selera pemirsa sendiri. Bagi kita masyarakat awam, untuk mengetahui seluruh acara tv yang on-air selama 20 sampai 24 jam jelas sangat merepotkan. Jangankan seluruhnya, untuk mengetahui tayangan tv pada jam yang sama pun pemirsa belum tentu mampu. Sehingga semakin banyak judul tayangan, akan semakin berat pula bagi pemirsa untuk mengingatnya.

Akibat dua hal itu, pemirsa tidak sempat membandingkan head to head antara satu tayangan tv dengan tayangan yang lain. Apalagi secara utuh. Banjir aneka tayangan yang semula jadi andalan stasiun tv akhirnya jadi sia-sia. Karena “siapa” lawan “siapa”nya sudah tidak jelas. Akhirnya yang ditonton pemirsa cuma tayangan yang diingat dan disukainya saja.

Atas dasar itulah stasiun tv lalu “menyederhanakan” atau mengurangi jumlah judul tayangannya, namun tanpa mengurangi total jam tayangnya. Misalnya dari 30 judul dalam seminggu disunat jadi separuhnya. Judul tayangan yang disukai akan jalan terus. Bahkan mungkin diperbanyak episodenya.. Sedangkan yang sebaliknya pasti di hapus atau dikurangi.

TAYANGAN STRIPPING

Kebijakan “menyederhanakan” atau mengurangi jumlah judul tayangan pada satu sisi serta menambah episode pada sisi lain ini lalu melahirkan jenis tayangan baru. Yakni tayangan yang bersifat harian (daily) atau disebut juga stripping. Contohnya sinetron. Dulu setiap judul sinetron ditayangkan seminggu sekali, sekarang banyak yang jadi tiap hari. Cara sebuah sinetron stripping sekarang ditayangkan persis seperti telenovela dahulu.

Sinetron yang ditayangkan mingguan jumlahnya sangat sedikit. Kalaupun ada dia tidak akan mampu bersaing dalam share dan rating melawan sinetron harian. Banyak kelemahan dari sinetron mingguan. Rentang waktu yang terlalu lama membuatnya gampang dilupakan pemirsa.

Di sisi lain, penyajian sebuah sinetron secara stripping juga membawa konsekuensi. Yaitu beberapa jenis tayangan lainnya jadi tersingkir karena slotnya dihapus. Jenis tayangan yang tersingkir itu bisa jadi lalu diambil-alih stasiun tv lain. Sebaiknya jangan pernah berpikir tayangan yang tersingkir tadi adalah tayangan buangan atau sisa. Sebab, sering kali tayangan yang semula “tersingkir” tadi justru berbalik menjadi tayangan favorit di tv lain. Itu semua tergantung kemasan tayangan itu dan selera pemirsa.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sekarang ini banyak tayangan stripping yang jadi tayangan unggulan di stasiun tv masing-masing. Seperti sinetron (RCTI, SCTV), Mamamia (Indosiar), film (Transtv), talkshow Empat Mata (Trans7), kartun (Globaltv) dll.

Akhirnya, menentukan sebuah jenis tayangan stripping sebagai tayangan unggulan bagi sebuah stasiun tv adalah soal pilihan. Soal strategi. Tentu saja pilihan tersebut diambil dengan mempertimbangkan segala plus dan minusnya. Sebaliknya selera pemirsa adalah hal lain. Dan diantara keduanya bisa bertemu (mixed) pada satu titik bisa pula tidak. Tergantung pada kejelian praktisi stasiun tv masing-masing.

0 Response to "Fenomena Stripping Di Televisi (Sebuah Catatan Akhir Tahun)"

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar yang relevan. Dilarang menaruh link dalam isi komentar ...

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *