Politik Fair Play dan Tugu Pancoran

fair play dalam politik
Pemilu sudah kita lewati bersama, hiruk pikuk kampanye juga sudah berakhir. Sekarang tinggal menunggu hasil perhitungan KPU. Selama masa kampanye kemarin, dua kali saya menyaksikan baliho seorang capres dirusak orang. Lokasinya disatu tempat saja, yaitu diujung jalan MT Haryono, dekat tugu pancoran. Yang dirusak juga capres yang itu-itu saja. Tidak yang lain. Aneh ? Mungkin ya, jangan–jangan yang merusak oknumnya juga ya itu-itu saja.

Selain aneh juga memprihatinkan tentunya. Ini bukan soal siapa yang merusak dan siapa yang dirusak balihonya. Atau pihak mana yang merusak dan dirusak. Perkara kriminal seperti itu akan mudah diungkap kepolisian, jika … kepolisiannya juga serius menyikapinya. “Kuman” diseberang lautan seperti DR. Azhari saja bisa diberantas, apalagi cuma rusaknya baliho segede “gajah”, yang patung pancoranpun mungkin bisa melihatnya, seandainya ia hidup.

Tapi disini kita bukan sedang membicarakan soal baliho rusak. Apalagi capresnya belum tentu juga saya dukung. Ada hal lain yang rasanya lebih substansiil. Lebih mendasar untuk dipecahkan bersama. Pertanyaannya sederhana saja, setelah sekian tahun merdeka, bisa nggak sih bangsa ini menyikapi perbedaan politik secara dewasa ?

Pemilu hakikatnya adalah kompetisi merebut hati rakyat. Dan pada setiap kompetisi tentu ada peraturannya, termasuk pemilu. Ada regulasi. Ada rule of the game. Melakoni sebuah kompetisi dengan aman, jujur dan adil diperlukan sportifitas. Yaitu sikap menjunjung tinggi fairplay. Kepada pihak yang melanggar janganlah kita segan-segan untuk menjatuhkan sanksi. Tangkap dan giring ke meja hijau. Adili pelakunya ….

Ah, menyinggung fairplay ingin rasanya saya bicara soal bola. Saya ingin bilang bahwa kita semua, terutama para peserta pemilu, perlu meniru semangat fairplay dalam sebuah pertandingan sepakbola. Sepakbola yang positif dan atraktif adalah yang menjunjung tinggi sportifitas dan fairplay. Sebaliknya sepakbola yang dipenuhi dengan pelanggaran, diving, dan tekel yang mencederai lawan dll, adalah bentuk sepakbola negatif dan bersifat destruktif bagi dunia sepakbola itu sendiri. Sepak bola yang seperti itu layak ditinggal para supporter dan penontonnya.

Sangat menyenangkan rasanya bila kita bisa menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola yang atraktif. Sebaliknya, sangat menyebalkan bila harus menyaksikan sepak bola negatif dan tak layak untuk kita tonton. Kalau para pemain bola saja bisa bermain secara fairplay, masa sih para politisi old crack negeri ini nggak bisa fairplay di saat pemilu? Malu dong, malu … malu … malu ….

Baliho itu memang akhirnya sudah dua kali pula diperbaiki. Sayang sekali, kita sudah terlanjur menyaksikan sebuah "penodaan" di pemilu kali ini. Mestinya kita semua malu sama tugu pancoran….

0 Response to "Politik Fair Play dan Tugu Pancoran "

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar yang relevan. Dilarang menaruh link dalam isi komentar ...

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *