Pengalaman Masa kecil : Pertempuran Diatas Kereta


Ingat kenangan masa muda dahulu di Jogja kembali mengusap emosi. Yang ini tentang bagaimana aku pulang ke kampung halaman dari Jogja ke Cimanggu-Cilacap.

Ketika itu, antara tahun 1983 sampai 1986, aku sekolah di SMA Teladan di daerah Wirobrajan Yogyakarta. Sebagai anak kost, sudah jamak kalau aku mesti memakai uang kiriman ortu dengan sehemat mungkin. Maklum, kiriman dari ortuku enggak sebanyak teman-teman lain. Pertama kali ke Jogja kalau enggak salah aku dibekali dengan uang 20 ribu perak dan beras 10 kg untuk biaya hidup sebulan penuh.

Patokanku saat itu, kalo masih bisa pinjam ya enggak perlu di beli. Kalo mau pergi-pergi masih bisa ditempuh sepeda ya kenapa mesti naik angkot. Kalo bisa pulang kampung gratisan buat apa beli tiket bis. Kira-kira, begitulah keadaannya.

Pulang kampung gratis ? Bagaimana caranya ?
Sebenarnya sih enggak sepenuhnya gratis. Masih ada duit yang mesti dikeluarkan, tapi ya paling 20 persennya saja. Berhemat sampai 80 persen bukan jumlah sedikit buatku saat itu. Jumlah persisnya aku sudah lupa, tapi ya kira-kira dua ribu perak aku sudah bisa pulang kampung plus makan sekedarnya dijalan.

Kala itu "jurus" pulang kampung murah meriah ini diperkenalkan teman-teman kost ku. Bukan sesama teman SMA, karena teman-teman satu sekolahku kebanyakan anak-anak asli Jogja, melainkan teman-teman dari sekolah lain di sekitar Wirobrajan, seperti STM Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, SPG Muhammadiyah, atau yang agak jauh SMA 17 di jalan Tentara Pelajar sana. Setelah aku kuliah dan adikku menyusul sekolah di Jogja, "jurus" inipun aku wariskan padanya.

Biasanya kami berangkat rombongan. Berdua, bertiga, atau berempat, yang jelas tak pernah sendirian. Yang paling senior, didaulat sebagai ketua. Startnya dari stasiun Lempuyangan, bukan dari stasiun Tugu (kalo yang ini dimata kami stasiun buat orang-orang berduit) . Sampai di stasiun kadang kami bertemu dengan kelompok lain yang hendak bepergian juga. Sekitar jam sembilan pagi, kereta barang dari Balapan-Solo datang. Kami pun segera naik. Setelah menunggu beberapa kereta lain lewat, giliran kereta kami berangkat.

Tak ada tempat duduk. Kami mesti berdiri atau duduk cuma beralaskan koran. Diluar sana pemandangannya silih berganti. Sawah, tegalan, rumah penduduk, kali kecil dll. Sedikit membosankan, tapi kami cukup menikmati perjalanan pulang ini. Kadang-kadang ada gadis-gadis lagi pada mencuci baju di kali. Kalo sudah gitu kami teriakin kencang-kencang "Hai . . . hai . . . !". Ada pula yang teriakannya usil, "Buka. . . buka . . .!". Biasanya mereka cuma nyengir cekikikan.

Setelah beberapa stasiun kecil dilewati kami sampai di stasiun yang agak besar yaitu Kutoarjo. Disini kami turun, dan cari makan. Biasanya banyak penjual nasi bungkus. Ada yang isi nasi rames ataupun nasi pecel, tambahannya bisa sepotong tempe mendoan atau keripik kacang. Yang penting murah, bersih, dan kalo bisa enak, itu saja.

Di stasiun Kutoarjo ini biasanya kereta berhenti cukup lama. Tau sendiri kereta ini kelasnya paling bawah, jadi mesti mengalah. Sebelum berangkat, beberapa teman mengumpulkan batu-batu kerikil dan dimasukkan ke tasnya masing-masing.

"Keur naon (buat apaan) ?", tanyaku heran.
"Bekal dijalan", jawab satu temanku sekenanya.
"Buat jaga-jaga", sahut yang lain.
Aku masih belum mudeng dengan maksud mereka, tapi aku toh ngikutin juga kelakuan mereka. Siapa tau batu-batu kerikil ini ada gunanya, begitu pikiranku saat itu.

Lewat tengah hari kereta sampai di sekitar Kebumen atau Gombong.
"Ulah dipinggir, ayo asup ", kata temanku menyuruh yg lain masuk kedalam gerbong.
Tiba-tiba duuerrr ! Duuerrr ! Dinding besi kereta berdentam dilempar batu anak-anak iseng di luar sana. Untung enggak ada yang kena.

"Kita diserang, kita diserang !", teriak temanku. Kami tak mau kalah, membalas sebisanya. Sayang kereta sudah jauh.
"Hati-hati, nanti ada lagi !"

Benar saja tak lama kemudian kereta dilempar. Duer, duer ! Kali ini kami lebih siap, hujan kerikil segera berhamburan dari kereta. Anak-anak iseng itu berlarian kocar-kacir. Kami terbahak-bahak kegirangan. Bonyok lu !

Wah, tau bakal begini aku tadi pasti bawa kerikil banyak-banyak.

"Bulan berganti, tahun berlalu". Begitu cara kita bertutur tentang bergulirnya waktu. Seiring dengan itu, selanjutnya, para yuniorku ganti mendaulatku jadi ketua diantara mereka. Begitulah, seperti kata pepatah, roda berputar dan sejarah berulang, pertempuran kecil itupun terjadi dan terjadi lagi... Pelakunya berganti, "musuhnya" berganti, waktu dan lokasi berganti... Entah sampai kapan "pertempuran kecil " itu bakal berakhir . . . .

Bila dikenang saya suka cengar-cengir sendiri. Ternyata sekali waktu dalam sejarah, saya pernah menjadi seorang jenderal kecil dalam sebuah "pertempuran". Tapi bila direnungkan lebih jauh, saya suka sedih juga, kira-kira ada nggak ya yang terkena batu lemparanku ? Kalau cuma kena jari kelingking sih ya nggak apa-apalah. Anggap itu resiko. Ha, kalau kena jidat gimana ? .....

Ampuni aku ya.


0 Response to "Pengalaman Masa kecil : Pertempuran Diatas Kereta"

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar yang relevan. Dilarang menaruh link dalam isi komentar ...

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *