Silent Majority Bersuaralah, Jangan Diam !

Silent majority, jika ingin menang bersuaralah jangan diam saja

Silent majority bersuaralah, jangan hanya diam
Taukah Anda arti istilah Silent Majority ? Mudah-mudahan sih sudah tau, atau minimal pernah mendengar istilah tersebut. Tapi jika belum, begini :

Mantan presiden Amerika, Richard Nixon, menjuluki kelompok diam yang jumlahnya banyak ini dengan istilah “silent majority”;  Jumlahn mereka besar sekali. Seandainya mereka bersuara, mereka bisa mengubah sejarah. Mereka bisa mendukung tokoh pembela kebenaran dan keadilan. Meruntuhkan diskriminasi. Namun karena diam, arah dan kebijakan bangsa akhirnya ditentukan oleh “vocal minority”; kelompok yang lebih sedikit jumlahnya, namun banter suaranya. Merekalah yang menguasai ruang diskusi publik. Pendapat mereka berbeda dengan mayoritas, namun karena vokal, dianggap mewakili suara semua orang.

Silent majority ada dimana-mana. Di masyarakat. Di pelbagai organisasi dan yayasan, baik organisasi pemerintah maupun keagamaan. Orang diam karena berbagai sebab. Ada yang memang tidak suka berpartisipasi. Ada yang bersikap “emangnya gue pikirin.” Sebagian lagi tidak berani bicara, karena takut salah, sungkan, atau sudah terlanjur disogok untuk diam. Sebagian keburu pesimis, "saya cuma punya satu suara, apa pengaruhnya?". Yang lain tidak berani menanggung resiko untuk menyuarakan ketidaksetujuan terhadap pendapat kelompok vocal minority. Dan alasan yang paling klasik adalah takut untuk keluar dari zona nyaman karena bersuara berbeda.

Alasan untuk diam bisa beragam, namun hasilnya seragam: kelompok silent majority akhirnya hidup terjajah karena disetir oleh kelompok vocal minority; digiring menuju cita-cita masa depan yang tidak mereka inginkan. Ini gara-gara mereka menjadi macan ompong. Mereka hadir, namun kerjaannya cuma cengar-cengir. Mereka ikut bersidang, namun tak dapat menjadi garam dan terang. Mereka punya suara, namun diam saja.

CNN menyatakan bahwa salah satu resep kemenangan Donald Trump adalah karena ia rajin “berkicau” di Twitter. Anda boleh tidak setuju dengan pandangannya, tetapi harus diakui bahwa ia hebat dalam soal bersuara. Ia tidak diam. Berisik, bahkan cerewet. Tiap hari ia menggarami puluhan juta pendukungnya dengan cuitannya.

Kita semua sebenarnya juga bisa dan punya suara. Sudahkah kita bersuara untuk hal-hal penting? Jangan-jangan, kita pun termasuk kelompok silent majority. Martin Luther King, pembela hak asasi bagi kulit hitam, pernah berkata: “Hidup kita mulai berakhir, pada hari dimana kita menjadi diam/bungkam untuk hal-hal yang penting/menentukan.” (Our lives begin to end, the day we become silent about things that matter). (Dari grup Whatsapp)

0 Response to "Silent Majority Bersuaralah, Jangan Diam !"

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar yang relevan. Dilarang menaruh link dalam isi komentar ...

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *