Korban Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

Korban Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)
Belakangan ini perang opini di media online sangat terasa, seperti di Twitter, Facebook dll. Juga antara media mainstream vs media non-mainstream.

Berita hoax ? Hmm, jangan tanya, karena bersliweran datang dan pergi.

Sebagian karena meningkatnya suhu politik menjelang pilkada 2017, terutama pilkada DKI. Sebagian lagi terkait sisa-sisa persaingan di pilpres yang lalu. Perang opini atau perang pemikiran ini sering disebut dengan istlah Ghazwul Fikri.

Essay tentang korban ghazwul fikri ini merupakan tulisan lama. Tapi konteksnya masih relevan dengan situasi sekarang.

Menurut bahasa, istilah ghazwul fikri bisa diartikan sebagai perang pemikiran. Yaitu, konfrontasi di bidang intelektual dan informasi antara dua pihak yang berseteru. Istilah itu mula-mula dilontarkan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir tahun 1950-an. Sebagaimana kita ketahui, Al Ikhwan adalah sebuah gerakan Islam yang ingin menerapkan syariat Islam dalam kehidupan kaum muslimin secara menyeluruh. Mereka ingin menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai platform paling azasi dalam segala gerak aktifitas umatnya.

Oleh Al-Ikhwan, istilah itu dimaksudkan untuk menyadarkan umat dari bahaya pembelokkan aqidah. Sebab, regim sosialis Nasser yang berkuasa di Mesir ketika itu, gencar menyuarakan semboyan Ad-dien Lillah wal Wathanu Lil Jami’. Artinya, agama bagi Tuhan dan tanah air untuk semua orang. Semboyan ini dipakai Nasser untuk memotong garis perjuangan Al-Ikhwan yang ingin melihat Mesir pasca revolusi 1952 berdasarkan Islam.

Bagi Al-Ikhwan, semboyan Nasser itu sama saja dengan salah satu doktrin agama tertentu. Yaitu, agama Nasrani. Doktrin yang dimaksud yaitu, serahkan pada Kaisar apa yang menjadi urusan Kaisar, dan pada Tuhan apa yang menjadi urusan Tuhan. Inilah doktrin yang nantinya melahirkan paham sekulerisme. (Buat teman-teman yang beragama Nasrani, kalau pamahaman saya ini salah mohon dikoreksi). Tentu saja, Al-Ikhwan menolak “transplantasi“ aqidah seperti itu. Dari semboyan Nasser inilah ghazwul fikri lalu dipahami sebagai invasi dan manipulasi bidang intelektual dan informasi yang dilancarkan musuh terhadap kaum muslimin.

DR. M. Amien Rais (waktu itu beliau belum professor, bahkan belum menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah) suatu kali pernah menjumpai peristiwa yang memprihatinkan. Ceritanya, ketika beliau memberikan ujian mata kuliah Politik dan Pemerintahan Timur Tengah, banyak kertas kerja mahasiswanya yang diketahui pro-Israel. Atau lebih simpati pada Israel dari pada ke nasib rakyat Palestina. Aneh. Ini seperti tidak masuk akal. Bagaimana mungkin mahasiswa-mahasiswa itu bisa memaafkan teror dan kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina yang tidak berdosa ? Bagaimana mungkin hak-hak sah rakyat Palestina dikesampingkan dengan mudahnya ? Apakah mereka tidak mampu menempatkan konflik Palestina-Israel dalam proporsi yang benar ? Selanjutnya mengapa bangsa Indonesia memiliki mahasiswa-mahasiswa yang garis pemikirannya seperti itu ?

Jawaban singkat yang diajukan oleh pakar Timur Tengah itu adalah ghazwul fikri. Mahasiswa-mahasiswa yang pro-Israel itu telah menjadi korban ghazwul fikri yang dilancarkan media-media Barat. Mereka sudah sedemikian terkondisi dengan produk berita yang dikemas Barat. Time, Newsweek, Voice of America, CNN dan media-media sejenis adalah makanan harian mereka. Sehingga, disadari atau tidak, mereka terbawa arus dan mengikuti pola pikir dari media massa yang setiap saat mereka baca, dengar, dan lihat itu.

Sungguh ironi. Mahasiswa-mahasiswa yang cerdas itu telah tertipu. Distorsi dan misinterpretasi atas fakta dan informasi dalam kenyataannya telah berhasil Barat tanamkan di benak mahasiswa-mahasiswa itu.

Jika mahasiswa-mahasiswa itu saja bisa tertipu, lalu berapa banyak lagi orang awam diantara kita yang telah menjadi korban ? Wallahu’alam.

0 Response to "Korban Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)"

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar yang relevan. Dilarang menaruh link dalam isi komentar ...

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *